Home Program Studi
Program Studi
PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH (DBD)

 
STIKES KAPUAS RAYA MELAKUKAN SOSIALISASI

Tim Promosi  STIKes Kapuas Raya melakukan sosialisasi di putusibau , Tim Sosialisasi dan Promosi stikes kapuas raya yang terdiri dari Tim Uray B.Asnol, MM.,M.Kes, kembali mengadakan sosialisasi pendampingan siswa-siswi SMA.

puluhan siswa-siswi tampak bersemangat menyimak kalimat yang mengalir  dari Tem promosi ,   untuk memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat belajar di perguruan tinggi, STIKes Kapuas Raya sintang.

Yang menjadi tempat sosialisasi adalah sekolah SMA N 2 putussibau dan SMA karya budi putussibau. Kita melakukan sosiliasasi ini untuk memberikan kesempatan yang sama kepada para siswa dan siswi untuk kuliah di stikes kapuas raya sintang, sehingga ada kader-kader terbaik.

Dengan sosialisasi tersebut, para siswa dan siswi pun antusiasi ingi lebih banyak tahu tentang stikes kapaus raya sintang.

 
DINAS KESEHATAN SINTANG

Sintang sudah terdapat 2 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang menyebabkan kematian di wilayah Kabupaten Sintang. Untuk mewaspadai dan mengantisipasi serangan penyakit DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang bekerjasama dengan STIKes Kapuas Raya Sintang mengajak mahasiswa dan dosen untuk melakukan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang melibatkan masyarakat agar perlu menjaga kebersihan lingkungan di dalam rumah maupun di luar rumah kegiatan. Sebelum melakukan kegiatan tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang memberikan materi sebagai bekal sebelum ke lapangan.

Pada hari sabtu, 14 November 2015 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang mengadakan sosialisasi dan pemberian materi tentang “PSN-DBD” kepada 236 mahasiswa STIKes Kapuas Raya Sintang dan seluruh dosen STIKes Kapuas Raya Sintang. Mahasiswa dan dosen sangat berpatisipatif dalam menerima materi yang di sampaikan dan memberikan pertanyaan seputar PSN-DBD.

PSN adalah bagian dari program Gerakan Jumat Bersih, untuk memberantas sarang dan jentik-jentik nyamuk, yang telah lama diimbau untuk dilaksanakan di lingkungan masyarakat. PSN adalah cara pencegahan DBD yang paling efektif dan efisien sampai saat ini.

“PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga sering kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara 3M Plus. Mulai dari menguras, yaitu membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi dan ember air, tempat penampungan air minum. Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air. Terakhir, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah, segala bentuk kegiatan pencegahan. Seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, dan lain-lain.

“Kita perlu menjaga kesehatan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan demam berdarah. Untuk itu diperlukan kepedulian peran serta aktif masyarakat untuk bergotong royong melakukan langkah-langkah pencegahan penularan penyakit DBD, melalui kegiatan pemberantasan nyamuk dan jentik secara berkala dan PSN 3M Plus.

DBD disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD banyak dijumpai terutama di daerah tropis. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD antara lain, rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

Gejala awal DBD antara lain demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakkan bola mata dan nyeri punggung, kadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan, pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian. Masa inkubasi penyakit ini tiga sampai 14 hari tetapi pada umumnya empat sampai dengan tujuh hari.

“Sejauh ini belum ada obat dan vaksin untuk mencegah DBD. Pengobatan terhadap penderita masih hanya bersifat simtomatis dan suportif.”

 
VOLUME 1 NOMOR 1 JANUARI 2014

Pengetahuan dan sikap dengan Penyalahgunaan narkoba pada siswa di sekolah menengah atas

Agung Dwi Susanto dan Sunarti


Perilaku Dengan Kejadian Malaria

Mardiono dan Elvi Juliansyah


Perilaku dan kejadian diare Pada anak balita

Ita Alman Andela dan Dian Indahwati Hapsari


Faktor – faktor berhubungan konsistensi nWanita pekerja seks

menggunakan Kondom untuk pencegahan hiv dan aids

Arip Ambulan Panjaitan dan Uray B.Asnol


Faktor - faktor berhubungan kejadian Infeksi saluran pernafasan akut (ispa)

Pada anak balita

Fahmi Amrulniza dan Elvi Juliansyah


Faktor-faktor berhubungan perilaku Merokok siswa sekolah menengah atas

Yosafat Duatno dan Dian Indahwati Hapsari


Pengetahuan ibu tentang pemberian Makanan tambahan pada balita

Lisa Diyanthie dan Lea Masan


Faktor – faktor keberhasilan Pengendalian diabetes mellitus tipe 2

Wagiran


Gambaran pengetahuan ibu hamil Tentang perawatan payudara

Diana Utin Chaniago dan Elvi Juliansyah

 


pengetahuan dan sikap perilaku seks pranikah pada siswa sekolah menengah atas

Murdani dan Uray B. Asnol

 
BULAN RAMADHAN MERUPAKAN BULAN YANG PENUH BERKAH BAGI UMAT ISLAM

Hadi prawoto, A.md

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam dan diharapkan dapat menjadi berkah bagi umat lainnya. Di bulan Ramadhan umat Islam memiliki kewajiban menjalankan ibadah puasa. Saat berpuasa ini, selain berusaha meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang sifatnya vertikal, juga harus meningkatkan relasi yang baik dengan sesama manusia. Relasi yang baik dengan sesama manusia menunjukkan relasi yang sifatnya horizontal. Relasi yang baik ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepekaan sosial.

Ibadah puasa memiliki tujuan salah satunya ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh orang-orang yang tidak mampu. Kalau kita biasanya sehari-hari menanyakan kepada diri kita sendiri dengan ”besok kita makan apa?” biasanya orang yang tidak mampu akan bertanya kepada diri sendiri ”besok apa makan?”. Dua pertanyaan yang menunjukkan kondisi yang berbeda. Saat puasa, janganlah berlebihan untuk berbuka puasa. Maksudnya, memang seharian berpuasa dan janganlah alasan berpuasa ini membuat kita berbuka dengan berlebihan. Biasanya yang tidak ada menjadi diada-adakan untuk berbuka. Kalau ini terjadi maka bukan belajar empati merasakan kondisi orang tidak mampu tetapi malah menjadi konsumtif dan pemborosan. Kalau seperti ini, dan orang miskin mengetahuinya bagaimana perasaan mereka. Mungkin kita yang mampu akan makan dengan nikmat tetapi yang miskin tetap saja seperti biasanya buka seadanya kalau ada yang dipakai berbuka, namun kalau tidak ada yang dibuat berbuka yang tidak makan. Inikah kepekaan sosial yang diajarkan di dalam bulan Ramadhan?. Bukan jawabnya. Kepekaan sosial dapat dilatih dengan tidak berlebihan saat buka dan berbagi dengan yang membutuhkan dengan acara buka bersama atau berbagi makanan untuk berbuka.

Orang yang berpuasa juga dilatih untuk memiliki kepekaan sosial terhadap orang yang tidak berpuasa. Saat orang yang tidak berpuasa akan makan atau minum harus toleransi karena itu kebutuhan hidup. Jangan merasa itu sebagai bentuk ejekan atau kesengajaan. Memang ada yang sengaja, namun jadikanlah itu sebagai bentuk pelatihan diri sehingga ibadah puasa yang dijalankan terlihat perjuangan dan kebermaknaannya.

 

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4

UNBAYA

 

UNBAYA