Home Berita / Informasi Berita Kampus Workshop dan Pelatihan REDD di Sintang Kalimantan Barat
Workshop dan Pelatihan REDD di Sintang Kalimantan Barat

WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat

Perubahan iklim dan pemanasan global menjadi isu yang paling banyak dibicarakan saat ini, baik pada tataran ilmiah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan manusia berkontribusi pada pemanasan global melalui perubahan pada jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Gas-gas rumah kaca mempengaruhi iklim dengan cara menghalangi kelebihan radiasi sinar matahari yang masuk ke bumi ke luar atmosfer. Hal ini dapat menyebabkan perubahan extrim cuaca seperti bertambah panas atas dingin atu ketidak teraturan siklus musim. Peningkatan suhu permukaan bumi marak terjadi sehingga menyebabkan pencairan es di kutub yang berakibat banjir di berbagai negara. Perubahan iklim juga menyebabkan negara-negara kepulauan terancam akan tenggelam.

REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) adalah salah satu skema/upaya penurunan emisi gas rumah kaca melalui upaya pencegahan deforestrasi dan kerusakan hutan. Melalui pertemuan Conference of Parties (COP) yang telat dilakukan di berbagai negara, terakhir adalah COP 16 di Cancun-Meksiko yang telah menghasilkan beberapa hal antara lain : Negara-negara maju penghasil emisi besar berjanji akan mengurangi emisinya tersebut; PBB akan me-lead untuk membantu memberikan bantuan iklim (climate aid), memberikan bantuan untuk REDD, memberikan transfer knowledge, dan pengawasan terhadap kegiatan REDD ini. Walaupun belum jelas aturannya akan seperti apa, namun dengan hal-hal yang dihasilkan tersebut, kita patut untuk menghargai dan ikut mendukung dalam upaya menuju hal-hal tersebut.

REDD memiliki tujuan dasar antara lain meknisme ekonomi jangka panjang dalam kebijakan pembangunan untuk mengurangi emisi dari hutan. Penurunan Emisi 26%/41% yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi 7% yang pro growth, pro job, pro poor (Presiden RI 2010). Sedangkan tujuan khusus dari kegiatan workshop ini antara lain untuk mengetahui perubahan iklim dan pengarusutamaan mitigasi dan adaptasi dunia, mengembangkan pemahaman REDD dalam kebijakan internasional dan nasional, mengetahui alur dan mekanisme menuju REDD dan elemen-elemen mendukung ke arah perdagangan karbon serta membangun pemahaman masyarakat dalam perhitungan kabon (carbon accounting).

Guna mendukung upaya pemerintah dalam persiapan dan implementasi REDD, WWF Indonesia Program Kalimantan Barat telah mengadakan Workshop dan Pelatihan REDD di Kabupaten Sintang yang diselenggarakan pada tanggal 9 -10 Agustus 2011 di Hotel Sartika Puri Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Workshop tersebut resmi dibuka oleh Bupati Sintang Bapak Drs. Milton Crosby, M.Si dan dihadiri oleh berbagai instansi di tiga Kabupaten antara lain Kabupaten Sintang, Kabupaten Melawi dan Kapuas Hulu.

Selama dua hari Workshop dan Pelatihan REDD dilaksanakan dengan baik serta mendapat respon yang positif oleh peserta, terlihat dari antusias peserta dalam diskusi dan tanya jawab, berbagai materi disampaikan oleh narasumber dari WWF seperti materi pemahaman tentang REDD+ dan perhitungan karbon. Banyak pertanyaan dan saran dilontarkan dengan harapan kegiatan REDD ini berjalan sesuai dengan rencana sehingga dapat menurunkan emisi dan melawan pemanasan global.

STIKes Kapuas raya Sintang juga turut diundang untuk menjadi peserta, dengan mengirimkan satu orang delegasi yaitu ibu Sunarti, SKM dari program studi Kesehatan masyarakat. Menurut ibu Sunarti, SKM WWF sebagai organisasi perlindungan dunia bertujuan melindungi keaneka ragaman genetis, spesies dan ekosistem, menjaga bahwa penggunaan sumber daya alam dapat ditahan untuk jangka waktu yang lama demi keuntungan semua kehidupan di bumi, mengurangi polusi dan konsumsi yang tidak berguna hingga sekecil-kecilnya. Sedangkan kegiatan REDD+ yang memiliki tujuan dasar antara lain meknisme ekonomi jangka panjang dalam kebijakan pembangunan untuk mengurangi emisi dari hutan. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat disosialisasikn ke masyarakat lebih lanjut sehingga masyarakat dapat mengetahui ketersediaan karbon yang ada dilingkungan sekitarnya dan dapat berpatisipasi dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca melalui upaya pencegahan deforestrasi dan kerusakan hutan seperti dengan menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan. Sunarti, SKM)

 

UNBAYA

 

UNBAYA