Home Berita / Informasi Berita Kampus
Berita Kampus
STIKes Kapuas Raya Gelar Capping Day 2014

 

Pada hari jumat (17/01/2014), Program Studi D-3 Kebidanan STIKES KAPUAS RAYA SINTANG menyelenggarakan Prosesi Angkat Janji Praktikan Kebidanan Tahun Akademik 2013/2014. Acara ini dilaksanakan sebelum mahasiswa masuk pembelajaran klinik di Rumah Sakit untuk yang pertama kalinya. Acara ini dipimpin langsung oleh ketua PRODI kebidanan, dan seluruh dosen kebidanan STIKES KAPUAS RAYA, perwakilan lahan praktik dan para tamu undangan. Dalam sambutannya, ketua PRODI STIKES KAPUAS RAYA menyampaikan pentingnya para mahasiswa menjaga nama baik almamater di lokasi praktek dan berpegang teguh pada janji yang sudah diucapkan, ucapkan bukan hanya sekedar janji, namun sebuah kontrak profesi dihadapan Tuhan YME untuk menjadi tenaga bidan yang professional dan menjalankan tugas kebidanan yang sebaik-baiknya untuk melayani masyarakat tanpa memandang Suku, Agama Ras dan Golongan asal pasien.

 
Butuh Keteladanan pada Pendidikan Karakter

xxKEBERHASILAN suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, akan tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa "Bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas/karakter bangsa, manusia itu sendiri".

Menurut Doni Koesuma (2009), pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi – ideal - spiritual yang sempat hilang lantaran diterjang gelombang positivisme-nya Comte. Pedagog Jerman, F.W. Foerstar (1869-1966) merupakan pedagog pertama yang mengungkapkan urgensi pendidikan karakter. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang menentukan kualifikasi seorang pribadi.

Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman hidup yang senantiasa berubah-berkembang seiring dengan perjalanan waktu, pergeseran nilai budaya berikut proses adaptasi-adaptasinya. Sejak 2500 tahun yang lalu, Socrates telah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam sekitar 1400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW, sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak dan mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character). Berikut ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupa, yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik. Tokoh Pendidikan Barat seperti Klipatrick dan Goble seakan menggemakan kembali gaung yang disuarakan Socrates dan Nabi Muhammad SAW. Bahwa moral akhlak atau karakter adalah tujuan yang tidak terhindarkan dari dunia pemikiran tersebut dengan mengatakan"intelligence plus character that is the true aim of educa­tion" yang artinya kecerdasan plus karakter, itulah tujuan yang benar dari pendidikan. (Abdul, Majid, 2011)

Adapun di Indonesia, seja­rah pendidikan moral karakter dapat ditelusuri dari keterkait­anya dengan kewarganegaraan (Citizenship).Kewarganegaraan merupakan wujud loyalitas akh­ir dari setiap manusia modern. Di Indoensia, dalam zaman pra kemerdekaan, yang dikenal adalah pendidikan atau penga­jaran budi pekerti yang mena­namkan dalam peserta didik asas-asas moral, etika yang me­landasi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan sehari-hari. Setelah Indonesia memasuki era demokrasi terpimpin dibawah presiden Soekarno pada awal 1960-an, pendidikan karakter dikampanyekan dengan hebat dikenal dengan national and charakter building. Namun, dalam perjalanannya dihancur­kan oleh doktrin-doktrin yang melemahkan (Ki Sugeng dalarn Abdul Majid, 2011).

Kemudian pada masa pemer­intah Orde Baru,indoktrinasi itu berganti menjadi penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) yang bukan saja sebagai pelajaran wa­jib, tetapi juga penataran wajib, Upaya pembentukan karakter bangsa melalui mata pelaja­ran berlabel pancasila ini terus dilakukan dengan pendekatan indoktrinasi sampai pada da­sawarsa 90-an. Seiiring dengan menggemanya reformasi seki­tar tahun 2000 dengan digu­lirkannya kurikulum berbasis kompetensi yang membidani lahirnya kembali pelajaran budi pekerti.

 

Penguatan pendidikan moral (moral education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi klisis moral yang sedang melan­da di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkat­nva pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebi­asaan menyontek, penyalahgu­naan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Keteladanan Guru dan stakeholder Dalam pembentukan kara­kter, pendidikan harus mampu mendampingi peserta didik me­lewati proses the ascent of man. Hal ini dilatarbelakangi realitas bahwa dalam diri peserta didik terdapat dua kutub dorongan esensial; (1) dorongan memper­tahankan diri dari lingkungan eksternal yang ditandai dengan adaptasi evolusioner-revolusion­er, dan (2) dorongan pengembangan diri. Ketika peserta didik mampu menyeimbangkan dua kutub tersebut, maka dirinya akan menjadi pribadi berkara­kter matang, yang mana kema­tangan inilah yang akan ber­peran besar dalam penentuan keberhasilan diri peserta didik pada pendakian terjal perjalanan hidupnya. Sejatinya pendidikan karakter telah lama dicangkok­kan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Depdiknas sendiri telah lama menginstruksikan kepada sekolah-sekolah untuk menyampaikan beberapa item pembangun.mental (character buliding) bagi peserta didiknya. Beberapa item tersebut ada­lah: kreatif, inovatif, problem solver, berpikir Kritis, dan entrepreneurship (KIPBE).

Apa mau dikata, tidak se­mua perencanaan bermuara pada kesingkronan dengan kenyataan, implementasi pen­didikan karakter di sekolah­-sekolah kita temyata tidak berjalan optimal. Pengimple­mentasian pendidikan karakter di sekolah berbenturan dengan kendala; (a) kurang terampil­nya para guru menyampaikan item pendidikan karakter da­lam kegiatan belajar mengajar (KBM); (b) fokus sekolah untuk mengejar target-target akademik, terutama lulus ujian nasional (UN), dan (c) kurang­nya keteladanan di sekolah mau­pun stake holder yang terkait.

Ketika sekolah lebih me­musatkan perhatiannya pada aspek-aspek kognitif dengan mengukur keberhasilan kegiatan pembelajaran dengan besaran nominal nilai akademik, dengan sendirinya elemen soft skits sebagai elemen-elemen pen­didikan karakter menjadi abai. Pendidikan karakter sendiri pun akhimya dipaksa diukur dengan perangkat evaluasi yang men­elurkan besaran nominal nilai akademik sebagai hasil akhir. Tentang buah pendidikannya se­cara riil dalam kehidupan sehari-­hari itu menjadi pertimbangan ke sekian. Apabila ada yang mempersoalkan maka sekolah beserta stakeholder yang terkait pun telah siap dengan kelitan bertema globalisasi, modernitas, trend, dan lain-lain.

Apalah artinya besaran nominal nilai akademik jika pelajar kita akrab dengan aksi tawuran, aborsi, plagiarisme, dan lain-lain? Apalah artinya besaran nominal akademik jika tenaga pendidik kita dekat den­gan aksi asusila, menjadi tim sukses kandidat pemilukada;- menjadi PNS melalui suap­sogok, dan lain-lain? Pada momentum seperti inilah, pendidikan karakter seyogyanya diaplikasikan dengan memberikan ketela­danan.

Meski masih menjadi semacam kurikulum tersem­bunyi (hidden curriculum) yang diselipkan diberbagai mata pelajaran, namun ideal­nya pendidikan karakter juga disertai dengan keteladanan dari guru-guru, kepala sekolah, pengawas, kepala dinas, bah­kan dari menteri pendidikan sendiri.

Misalnya dalam mata pela­jaran Biologi, peserta didik dikenalkan dengan aktifitas menanam-merawat tanaman, diberikan pemahaman tentang kebermanfaatannya bagi peserta didik sendiri, serta di- • hubungkan dengan kerusakan ekologi.

 

 

Guru berikut stake holder yang terkait pun ditun­tut memberikan keteladanan dengan menanam-merawat tanaman itu sendiri. Begitu pun dengan mata pelajaran yang lain. seperti bahasa Inggris, Matematika, maupun Pendidi­kan Kewarganegaraan. Guru maupun stakeholder yang terkait harus mampu memberi­kan keteladanan bagaimana berkomunikasi dengan meng­gunakan bahasa Inggris, ber­hitung, dan mentaati peraturan perundang-undangan dengan baik dan benar.

Selain keteladanan, pembi­asaan merupakan bagian yang penting untuk ditanamkan ke­pada peserta didik kita. Misal­nya, menteri pendidikan men­jadi teladan bagi kepala dinas pendidikan di level provinsi, kepala dinas di level provinsi menjadi teladan kepala dinas di level kabupaten/kotamadya, begitu seterusnya hingga guru mampu menjadi teladan bagi siswanya. Keteladanan dan pembiasaan ini akan mem­berikan kontribusi positif bagi proses perkembangan karakter peserta didik sejalan dengan prinsip imitative dan behav­ioral.

 

 

Penulis Ketua STIKES Kapuas Raya Slatting

 
Training ESQ STIKes Kapuas Sintang Pendidikan Berkarakter, "Perkuat Pendidikan Karakter" ubah paradigma Pengenalan Kampus.

Sintang, Kamis (29/08/2013)-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kapuas Raya dalam kegiatan PPSM ( Pengenalan Program Studi Mahasiswa) yaitu pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru, selain memperoleh wawasan tentang kondisi tempat menuntut ilmu, para mahasiswa ini juga diberikan pendidikan karakter sebagai bekal dalam menjalankan profesinya kelak.

Peserta ESQ 2013


Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang, Uray B.Asnol SKM MM mengatakan dalam kegiatan PPSM STIKes Kapuas Raya yang diadakan mulai tanggal 25-29 Agustus 2013, membawa tiga tema besar yakni Pengenalaan institusi, Pelatihan Asset Base Comunity Development (ABCD) dan Pelatihan ESQ. "untuk pelatiahan ESQ ini kita adakan di Gedung Pancasila Sintang pada tanggal 28-29 Agustus 2013. Tidak hanya melibatkan mahasiswa baru dari tiga Program Studi (Prodi) yaitu Prodi Kebidanan, Prodi Kesehatan Masyarakat dan Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan serta seluruh civitas akademika, dengan Trainer Denny Kurniawan, yang di datangkan langsung dari manajement ESQ pusat dibantu ESQ LEADERSHIP CENTER BALIK PAPAN.

Panitia ESQ 2013


Mengapa STIKes KR memilih Emotional Spiritual Quoitient Leadership Center (ESQ LC), karena ESQ LC adalah lembaga training sumber daya manusia yang bertujuan membentuk karakter melalui penggabungan 3 potensi manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Selama ini, ketiga potensi tersebut terpisah dan tidak didayagunakan secara optimum untuk membangun sumber daya manusia. Selain itu, ESQ LC diakui oleh presiden dan kementrian pendidikan kebudayaan sebagai pembentukan karakter.

Training ESQ adalah solusi untuk menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan metode spiritual engineering yang komprehensif serta berkelanjutan. Melalui training ESQ, ketiga potensi manusia digabungkan dan dibangkitkan sehingga terbentuk karakter yang tangguh yang sesuai dengan Visi STIKes Kapuas Raya yaitu "Terwujudnya STIKes Kapuas Raya sebagai penghasil tenaga kesehatan yang unggul,mandiri, dan tanggap dalam memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan etika profesi dan nilai-nilai religius"

 
Pengumuman Libur Hari Raya Idul Fitri 1434 H Seluruh Mahasiswa Prodi Kesmas STIKes Kapuas Raya Sintang

 

 

 

PENGUMUMAN

No : 434/STIKes-KR/VII/2013

 

 

Dari                 : Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang

Untuk              : Seluruh Mahasiswa Prodi Kesmas STIKes Kapuas Raya Sintang

Isi pengumuman :

Berkenaan dengan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H yang jatuh pada tanggal 08 Agustus 2013, bersama ini kami sampaikan sebagai berikut :

  1. Seluruh mahasiswa diliburkan efektif dari tanggal 04 Agustus sampai dengan 18 Agustus 2013.
  2. Seluruh mahasiswa wajib melakukan registrasi keuangan dan registrasi akademik mulai tanggal 19 – 30 Agustus 2013.
  3. Bagi setiap mahasiswa yang akan melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) wajib melakukan konsultasi atau bimbingan kepada dosen Pembimbing Akademik masing-masing.
  4. Seluruh mahasiswa wajib mengikuti Stadium General pada tanggal 09 September 2013.
  5. Perkuliahan Efektif dimulai tanggal 10 September 2013.
  6. Selama masa libur bukan berarti kebebasan bagi mahasiswa untuk melupakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa. Kami mohon kepada Bapak/Ibu  orang tua/wali mahasiswa dapat lebih memperhatikan hal-hal yang berdampak negatif bagi mahasiswa (asusila, merokok, minum minuman keras, narkoba dan kenakalan remaja lainnya).
  7. Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang beserta civitas akademika menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H/ 2013 M, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan, atas perhatiannya di ucapkan terimakasih.


 

 

Sintang, 30 Juli 2013

Ketua STIKes Kapuas Raya Sintang

 

 

Uray B. Asnol,SKM.,MM

NIP. 19590906 198101 1 006

 
DITJEN DIKTI mengundang kita semua untuk memanfaatkan akses Jurnal Ilmiah

Akses Jurnal Elektronik yang disediakan oleh DITJEN DIKTI untuk bidang Ilmu Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Humaniora dan Seni adalah untuk database sebagai berikut:

 

ProQuest Database untuk bidang Ilmu Sosial, yaitu:

- ProQuest Sociology

Cengage Database untuk bidang Ilmu Pendidikan, Sosial, Humaniora dan Seni

EBSCO Database untuk bidang Ilmu Ekonomi, yaitu:

- ebsco Business Source Elite

 

Untuk mengakses database dari ProQuest harap menggunakan link URL sbb:

http://search.proquest.com/

 

Untuk mengakses database dari Cengage harap menggunakan link URL sbb:

http://infotrac.galegroup.com/itweb/

 

Untuk mengakses database dari ebsco harap menggunakan link URL sbb:

http://search.epnet.com/

 

 

Untuk mendapatkan data username/password untuk aksesnya harap:

- Bagi Mahasiswa/i atau dosen dari Perguruan Tinggi Negeri, harap menghubungi Perpustakaan Perguruan Tinggi masing masing

- Bagi Mahasiswa/i atau dosen dari Perguruan Tinggi Swasta, harap menghubungi Kantor Kopertis yang membawahi Perguruan Tinggi masing masing

Link Akses juga dapat menggunakan URL yang disediakan oleh DITJEN DIKTI sbb:

http://e-journal.dikti.go.id/site/

Informasi Penting untuk cara penyampaian informasi Username/Password kepada civitas akademika Perguruan Tinggi masing masing adalah sebagai berikut, harap dapat diperhatikan dengan baik:

1. Harap informasi Username/Password dapat diberikan langsung kepada Perguruan Tinggi yang bersangkutan, apabila memungkinkan dikoordinasikan dengan Koordinator Kopertis yang bersangkutan (untuk PTS).

2. Informasi Username/Password ini harap tidak disebarluaskan dengan metode yang terbuka dan dapat dilihat oleh semua orang secara bebas, misalnya diumumkan di website, blog, twitter atau sejenisnya.

Cara idealnya adalah disebarkan oleh Institusi masing masing kepada civitas akademika mereka, dengan cara email list, email broadcast ke civitas akademika masing masing, atau melalui perpustakaan / koordinator perpustakaan masing masing.

Bisa juga dengan papan pengumuman di perpustakaan atau lokasi kampus masing masing.  Cara penyebaran dengan melalui mailing list terbuka mungkin juga kurang ideal karena ada kecenderungan besar akan kemudian tersebar secara tidak terkendali dan juga akan merancu data statistik pemakaian dari masing masing institusi.

Bagi para penanggung jawab Perpustakaan Perguruan Tinggi, baik Perguruan Tinggi Negeri maupuan Perguruan Tinggi Swasta, untuk fasilitas bantuan dapat menghubungi helpdesk yang disediakan di email address: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Akses Jurnal Elektronik dari DITJEN DIKTI ini disediakan sampai 31 Desember 2013, harap semua dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 6